Sabtu, 31 Maret 2012

Mengatasi gangguan Psikis / kejiwaan melalui ritual keagamaan/ kepercayaan masing masing

agama merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan dalam penanganan gangguan jiwa. Pemanfaatan konsep agama ini dilakukan melalui terapi holistik yang melibatkan penanganan biologi, psikologi, sosial dan spiritual. Hal ini disampaikan oleh Prof Dr dr Dadang Hawari, Psikiater ahli kejiwaan.
Sebenarnya penanganan melalui agama sudah banyak dilakukan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebutkan konsep keagamaan kedudukannya sama dengan dimensi fisik, psikologis, dan psikososial.
Menurut Hawari, setiap dokter sebaiknya perlu untuk memandang kondisi seseorang secara holistik, seperti, fisik, jiwa, dan juga agama. Selama ini, konsep agama sangat membantu penanganan pasien kejiwaan.
Seperti yang kita tahu, kata Prof Hawari, semua agama pada dasarnya sama. Semua itu memberikan anjuran dan larangan bagi pengikut agama untuk hidup dengan benar. Bila setiap pemeluk agama mengikuti ajaran agama masing-masing, maka mereka seharusnya bisa mengendalikan diri dan terhindari dari penyimpangan perilaku.

Bahkan dalam agama juga melarang perilaku yang menyimpang seperti mengkonsumsi narkotika, minuman memabukkan yang berpotensi merusak jiwa, bermain judi merusak nilai moral, mencuri termasuk korupsi, dan bermain perempuan, dan penyimpangan seksual lainnya.

Oleh karena itu, pemeluk agama pun harus mengikuti ajaran agamanya dengan taat, sebab agama merupakan seperangkat aturan yang mencegah manusia terkena kerugian materiil, penyimpangan perilaku dan gangguan jiwa. (mba-kmp)

Agama sangat berperan penting terhadap kesehatan mental manusia. Jiwa seseorang sedang terganggu atau adanya gangguan mental jika ia jauh dari agama.  Hal tersebut mengakibatkan jiwanya resah tak menentu bak cando balam baru basangkak, yang  berdampak terhadap jasmaninya.hal tersebut dapat kita lihat dari perasaan takut , kehilangan nafsu makan atau susah tidur yang dirasakan oleh manusia tersebut. Situasi  kesal dan jengkel, jantung seseorang bisa  berdetak lebih kencang dan tidak normal, sehingga istilah sakik ati dan makan ati, mencerminkan adanya hubungan timbale balik antara jiwa(mental/rohani) dengan jasmani manusia.

Gangguan jiwa yang menyiksa manusia, menjadikan agama sebagai tempat yang pas dalam melakukan semua pengaduan atas semua permasalahan yang menimpa. Agamalah yang mampu sebagai obat penawar  yang teramat ampuh untuk menyembuhkannya,  karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka. Saat  hati gelisah, jiwa tak tenang lantaran persoalan dunia, maka dengan mengingat Allah jiwa akan tenang sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.Ar-Ra’d 28 yang artinya  “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Ayat di atas sangat jelas bahwa agama sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Agama diibaratkan seperti alat musik, seandainya kita mempelajari dan memainkan alat musik tersebut dengan baik dan benar, tentu  alat musik tersebut enak didengar dan memberikan rasa kedamaian terhadap jiwa kita, namun   sebaliknya apabila kita memainkannya tidak baik, maka alat musik tersebut tidak enak didengar (bising) dan  memberikan rasa tidak nyaman terhadap kita, Begitu juga agama, kalu kita mempelajari dan menjalankan agama dengan baik, tentu agama akan memberikan rasa nyaman dan tentram terhadap kita, tetapi sebaliknya apabila mempelajari agama tidak benar dan tidak menjalankan agama dengan baik, maka agama akan menjadi penghalang dan meresahkan bagi kita.

Jiwa keberagamaan untuk anak harus di tanamkan sejak anak masih dalam kandungan. Tapi terkadang faktanya berbeda dari yang diharapkan, sehingga kita tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hidup ini. Dalam adat minangkabau sendiri “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” sudah mulai memudar. hal ini dapat kita lihat dari hal kecil yang terjadi disekitar kita, seperti tradisi salat ke surau yang sudah mulai memudar, kita tidak mau lagi kembali ke surau. Siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan? lebih baik ini kita kembalikan kepada diri kita sendiri (introspeksi diri).

Bagaimana cara  pengobatan gangguan jiwa  dengan agama?  Itu gampang, tergantung keyakinan dan cara kita menyikapinya. Penulis punya metode dalam mengobati gangguan jiwa, dengan menggunakan agama sebagai obatnya, yaitu ketika kita merasakan gelisah dihati dikarenakan ada masalah, baik masalah keluarga,  teman,maupun masalah pacaran yang mengakibatkan kita sakik ati atau makan ati, susah tidur, bahkan tidak nafsu makan.

Hal yang pertama sekali yang harus kita lakukan adalah ingat kepada Allah SWT dan menyakini bahwa ini terjadi dengan izin dari pada Allah SWT. Kemudian dilarang keras untuk meratapi apa-apa yang akan terjadi, selanjutnya kalau masalah kita begini,  dan kita harus menyakini bahwa Allah tidak akan membebani hambanya kecuali sesuai dengan kesanggupannya (Qs. Al-Baqarah 286) dan setiap penciptaan makhluk ataupun kejadian tidak pernah Allah sia-sia karena pasti ada hikmahnya. Kemudian memperbanyak membaca Al-Qur’an dan mengerjakan shalat sunnat(Qs. Al-Baqarah 153).Kalau sudah begitu, pasti kita akan sabar dan iklas menerima cobaan. Dan insyaAllah gangguan jiwa pada diri manusia akan terobati. Intinya keyakinan, keikhlasan dan kesabaran

0 komentar:

Posting Komentar